Sunday, March 5, 2017

Cerita Pendek #3: Terimakasih, Aku Pamit

"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" Menghembuskan asap rokoknya, aku bisa melihat Deva memerhatikan ketika aku sedang membereskan buku-buku dan koper perjalanan.

"Yakin ga yakin sih"

"Lalu, kenapa kamu pergi?"
*

Percakapan kemarin masih terngiang di telinga ketika aku memegang sebuah tiket perjalanan satu kali yang bertuliskan namaku. Tidak pernah terpikirkan kalau aku ingin mengejar mimpiku yang lain, setelah bertahun-tahun bermain dengan zona aman, setelah bertahun-tahun dilindungi oleh Deva dan bagaimana ia membimbingku untuk terus bertahan di dunia yang bahkan lebih kejam daripada iblis yang sering diceritakan di kitab suci. 

Aku memikirkan kembali apakah keputusan ini tepat? Terutama ketika yang ditinggalkan bukan hanya kenangan dan masa lalu. Melainkan juga kehidupan yang sudah ikut berperan penting dalam pembentukan karakterku. Mengejar mimpi, bersekolah setinggi-tingginya, memutuskan untuk mencukupkan memang tidak pernah mudah.

“Tapi kamu tahu, aku akan selalu dukung kamu.”

Sebuah suara itu sontak membuatku memutar tubuh seratus delapan puluh derajat dan memerhatikan bagaimana Deva datang, tidak sendiri, melainkan ia membawa juga seluruh teman-temannya serta teman-temanku. Ia sepertinya enggan membiarkan aku pergi sendirian, atau setidak-tidaknya tidak ingin membiarkan aku merasa bahwa tidak penting untuk memberitahukan teman-teman terdekat untuk pergi. Teman-temanku tersenyum dan kemudian menghampiri, menawarkan pelukan, berbagai saran, berbagai ucapan penyemangat. Sesuatu yang membuatku dengan pelak berurai air mata.

“Jangan lama-lama disana, cepet pulang. Kita bakal terus nunggu.”

Atau yang ini,

“Gue gamau lo pergi jauh-jauh sebetulnya. Cepet balik, jangan kebanyakan ngelayap. Jangan lupa paketin oleh-oleh.”

Kontan membuatku kebingungan antara harus terkikik ataupun ikut menangis haru karena perhatian yang mereka curahkan. Seorang gadis pemalu yang hanya memiliki sedikit teman, mendapat siraman kehangatan pertemanan seintens dan sebaik ini. Siapakah yang tidak ingin.

Sementara Deva hanya memerhatikan dari kejauhan, tangannya memutar-mutar korek yang semenjak tadi digenggamnya. Berusaha menahan diri untuk tidak merokok. Menoleh kearahnya, aku hanya tersenyum dan kemudian setelah melepaskan pelukan dari teman-temanku yang masih sesenggukan dan beberapa kali mengucapkan kata penghiburan dan penyemangat, aku menghampirinya.

Tangannya otomatis membentang dan aku langsung masuk ke dalam pelukannya yang hangat. Tersenyum puas ketika tangan Deva dengan lembut membelai rambut panjangku serta merasakan detak jantungnya yang hangat. Kulihat dari ujung pandanganku, Deva terus menerus tersenyum, mungkin berusaha meyakinkanku untuk mengejar mimpi. Upayanya untuk menebus perasaan bersalah setelah kami berdebat lama mengenai kenapa aku memutuskan untuk pamit.

*

“Mengejar cita-cita? Yang kamu raih disini masih kurang? Atau kamu udah segitu ambisiusnya?”

Deva yang terlihat marah selalu terlihat mengagumkan sekaligus membuatku mengkerut disaat yang bersamaan. Amarahnya yang terbungkus ketenangan, terlebih karena setelah 5 tahun lebih bersama, aku tidak pernah melihatnya melampiaskan amarah begitu besar.

“Banyak yang ingin aku kejar Dev, banyak yang ingin aku raih. Ga cuma posisiku sekarang.”

“Mungkin sekarang aku mapan, punya posisi yang bagus. Bahkan sudah digadang-gadang untuk jadi penerus pimpinan perusahaan ini karena ia tidak memiliki keturunan. Tapi cita-citaku ga pengen berhenti disitu.”

Aku melihat Deva berusaha mengontrol emosinya. Bagaimanapun, aku menyadari bahwa ia menyayangiku dengan sangat. Tidak mungkin dia berusaha untuk menghalangi apa yang sudah diputuskan. Terlebih jika ia menyadari bahwa itu demi kebaikanku. Mungkin juga karena tahu bahwa cita-citaku selalu tinggi, ekspektasiku selalu tidak pernah sama dengan orang kebanyakan.

Hal yang kemudian membuatku menjadi pendiam. Membuatku sulit berteman dengan banyak orang dan pada akhirnya membuatku berteman dengan yang sedikit. Kehadiran Deva yang membawa banyak pengubahan terhadap sikap yang sudah melekat secara bertahun-tahun. Ia membawa teman-temannya, lingkaran teman wanita yang sama-sama secerdas ia. Mereka yang kemudian mampu membuatku betah duduk berjam-jam dan membicarakan banyak hal.

“Aku masih ga terima ketika kamu memutuskan untuk cukup, untuk menatap dunia luar dan kemudian mencoba merentangkan sayap kamu.”

Deva kemudian membantuku membereskan buku-buku dan mulai melipat beberapa pakaianku.

“Tapi aku selalu tahu kalau kamu tidak bisa dikekang. Kamu hanya bisa didukung dan dibimbing. Dan itu yang saat ini berusaha aku lakukan buat kamu.”

Aku yang mendengar hal itu hanya bisa mengernyit heran. Baru kali ini, seorang Deva mengalah dan mengizinkan aku melakukan apa yang aku inginkan. Atau karena mungkin ia juga punya sesuatu yang disembunyikan. Mengingat bagaimana seringnya Deva memberikan kejutan, mulai dari yang cheesy sampai yang ga ada pentingnya sama sekali membuatku hanya bisa mengernyitkan kepala heran apa yang ingin ia lakukan.

*

Dan ia melakukannya hari ini. Membawakan kado perpisahan yang begitu manis. Berusaha untuk tetap tegar dan terus menerus membisikkan kata-kata penyemangat, juga beberapa kali kecupan ringan di rambut yang mampu membuatku tersenyum. Mungkin Deva bukan orang yang selalu sempurna, tapi ia hal terbaik yang bisa aku temukan saat ini.

Meski dengan berat hati, harus kulepaskan juga.

“Attention, to all passengers Garuda Indonesia Flight GA-371 with destination to Amsterdam, please check-in immediately. Thank You.”


Aku melepaskan pelukan hangat yang sedari tadi diberikan oleh Deva. Memberikan senyuman hangat, aku mengecup pipinya pelan. Menyampaikan ucapan perpisahan dan Deva menyelipkan sebuah gantungan kunci yang sangat kukenal. Sebuah memento katanya, untuk mengingatkan kamu supaya cepat pulang. Tersenyum, aku mengantungi pemberiannya dan bergerak untuk memberikan ucapan serta salam perpisahan kepada teman-temanku yang lain. Sebelum menggeret koperku untuk memasuki bagian dalam bandara. Menempuh perjalanan yang berbeda, mengejar mimpi yang terbayang.

*

Dua Tahun Kemudian

Deva menghisap rokok putihnya dengan santai, sembari berusaha untuk melanjutkan tulisannya yang sedari tadi hanya memberikan kursor kedip di kalimat terakhir. Proyek terakhirnya sedang digarap, sebelum ia memutuskan untuk memfokuskan diri mengejar kariernya yang lain. Toh penugasannya sudah menunggu. Meskipun orang yang ditunggunya belum juga kembali.

"Meskipun embun pagi yang menyapa matamu itu berlalu sepi. Aku sesungguhnya sedang mengejar mimpi lain yang engkau tidak tahu. Aku mencoba menyusulmu secepat yang aku bisa, tapi kepak sayapmu dengan cepat membawa kembali serpih-serpih yang selalu aku coba rekatkan."

"Hngg.. Kenapa ga dilanjut?"

"Eh."

Deva melihat kekasihnya kembali pulang. Kali ini sendiri, dengan dua buah cincin dan sebuah surat ucapan. Membawakan lagi kenangan lama, sebuah ucapan terimakasih dan rasa sayang. Kali ini, mengajaknya untuk ikut pergi mengejar mimpi-mimpi. Di Amsterdam, Vienna, Johannesburg, hingga Sub-Sahara. Kali ini, bersama bintang-bintang, menemani perjalanan tak berujung. Pengabdian lama yang dilakukan Deva.

Jess mungkin mundur dari dunia yang ia senangi. Tapi ucapan terimakasih yang mengalir tanpa henti. Ucapan semangat serta rasa sayang yang membuatnya terus mampu mengejar mimpi-mimpi. Berlari di antara hyena di Sub-Sahara, mencoba mencari serpih-serpih permata di Johannesburg, sembari melihat-lihat patung seni di Vienna. Kali ini ia pulang, kali ini ia pamit.

*

No comments:

Post a Comment