Sunday, February 26, 2017

Personal Opinion #9: Memahami Kejijikan Terhadap Pergerakan

Pergerakan? Aksi? Demo? Turun ke jalan? dan berbagai nama lain yang dikasih ke dalam kegiatan satu ini kurang atau tidak mendapat tempat di Indonesia. Terutama ketika hari-hari belakangan, berbagai gerakan mahasiswa mendapat kecurigaan mengenai aksi mereka murni respons kebijakan pemerintah, bukan hanya tunggangan salah satu oknum politik untuk menggoyang pemerintahan. 

Terutama kejijikan terhadap pergerakan muncul belum lama, ketika sebagian mahasiswa yang berasal dari Universitas Calon Guru, melakukan hal paling biadab, menjijikkan dan memalukan untuk ukuran akal salah satu mahasiswa. Hingga mendapatkan sorotan tidak hanya di media alternatif, tapi juga di media-media arus utama. 

Rangkaian tulisan Personal Opinion ini merupakan kumpulan tulisan opini politik, santai, dan terkadang ga penting dari seorang pelajar HI di salah satu Universitas negeri di Jawa Barat. Bacanya santai aja, sambil minum kopi atau ena-ena.
Pagi tadi, dalam perjalanan ke Bandung dari Jakarta, setelah menunaikan kewajiban dan hak konstitusional seorang warga negara yang baik dan juga merasakan bagaimana mencoblos muka orang tanpa takut dikira santet, saya membuka twitter dan berselancar sejenak sembari menunggu mobil yang akan mengantar saya datang. Ketika itu saya tertarik dengan salah satu duitan cuitan dari beberapa orang yang dicuit ulang oleh teman-teman saya dan menunjukkan sebuah video ketika mahasiswa sedang melaksanakan aksi dengan foto presiden dan wakil presiden tergeletak dijalanan.

Dalam pikiran saya, 'ah paling juga orang-orang ga suka aksi lagi pada ngelempar isu' atau 'palingan juga mahasiswa tolol nginjek lambang negara lagi, sama kayak Imam Zina Besar FPI mereka.' Tapi ketika saya membuka video tersebut, apa yang terpampang didepan muka saya seketika membuat saya malu terhadap status mahasiswa, dan mengutuk betapa bodohnya teman-teman mahasiswa yang sedang melaksanakan aksi tersebut.

Bagi teman-teman yang belum tahu, disini saya lampirkan tweet yang memuat video tersebut untuk teman-teman lihat. Tapi perlu saya ingatkan, kalau dalam video ini mungkin mengandung konten yang akan membuat teman-teman geram, marah, merasa malu, ataupun mual. Viewer discretion is advised.

https://twitter.com/CRESCENTST4R/status/831857657136848901

Disitu jelas, kita bisa melihat bagaimana mahasiswa, yang mengaku sebagai inisiator, agen perubahan, calon pemimpin bangsa, melakukan hal paling biadab yang bisa terpikirkan dalam melaksanakan sebuah aksi. Dan hal ini, yang menuai protes dan kritik dimana-mana yang membuat saya sedikit banyak memahami kenapa pergerakan di Indonesia seakan-akan ingin mati.

Dalam hal ini, orang-orang sudah terlanjur mengasosiasikan gerakan turun ke jalan sebagai suatu aksi yang akan ditunggangi oleh kepentingan politik partai atau interest group tertentu. Sehingga antipati sudah muncul bahkan ketika pre-aksi sedang dijalankan. Mengembalikan hal ini cukup mudah sebetulnya, dengan melakukan berbagai publikasi berbagai aksi yang dijalankan secara damai dan benar-benar menunjukkan bahwa sebenarnya aksi tersebut murni sebagai gerakan kalangan bawah, bukan sesuatu yang "terlihat" sebagai gerakan bawah.

Selanjutnya yang menjadi perhatian khalayak adalah cap para mahasiswa aksi yang biasanya tidak jauh dari kata brutal, sok jagoan, biadab, ga punya pendirian yang jelas, pasukan nasi bungkus, dan yang paling parah adalah mahasiswa hilang akal. Mungkin hal ini muncul sebagai akibat dari berbagai aksi terdahulu yang biasanya berujung pada kehancuran dan timbulnya chaos. Sementara berbagai aksi yang berjalan dengan damai, enggan atau kurang mendapatkan liputan media karena dirasa tidak memiliki ketersinggungan dengan apa yang media sedang angkat pada saat itu. Mengatasinya bukan menjadi perkara mudah karena banyak sekali yang sebetulnya menganggap bahwa mahasiswa seharusnya hanya memiliki kepekaan dan empati terhadap masyarakat bawah dan tidak perlu menggunakan kebebasan bersuaranya untuk menjadikan empati itu tidak hanya berjalan individu, tapi menjadi suatu kesadaran massa yang besar.

Selebihnya, saya rasa kembali kepada bentuk keengganan di internal kampus yang didapat dari apa yang muncul diluaran terhadap aksi mahasiswa. Kata-kata seperti "sok jagoan", "jargon omong kosong", "aksi basa-basi", dan "calon pengangguran dan preman pasar" mungkin menjadi salah satu sumbangsih dari kurangnya keinginan mahasiswa untuk ikut serta dalam aksi. Karena dalam pandangan mereka yang seperti itu sudah tidak penting dan lebih penting mempersiapkan diri untuk bersaing di dunia kerja yang ketat dan mencekik nafas seperti itu. Bahkan ketika sebetulnya mengikuti aksi membantu kita memperluas pengetahuan.

Rangkaian tulisan Diary Anak HI ini ditujukan untuk mereka yang bebal dan tidak punya otak, serta bagaimana kegiatan mereka yang bebal tersebut membuat masyarakat semakin jijik terhadap aksi. Dalam tulisan ini saya pribadi merasa sebagai manusia yang masih mengalami sindrom kejijikan terhadap aksi dan alergitas terhadap politik tingkat elit mahasiswa merasa sudah sebaiknya hal ini dirubah. Mengembalikan kejayaan akademis dan pengabdian masyarakat mahasiswa seperti yang tercantum dalam Tri Dharma Perti seluas-luasnya dan sebaik-baiknya. Bukan hanya menjadi jargon, sebelum kemudian ditunggai interest group yang ingin menaikkan kemampuan menawarnya dihadapan pemerintahan.

No comments:

Post a Comment