Tuesday, October 4, 2016

Diary Anak HI #3: Tentang Konferensi dan Gejala-Gejala Ingin Terlihat Keren

Seperti biasa, disclaimer akan gue letakkan disini. Jadi sebetulnya tulisan ini tentang refleksi diri setelah dua semester berkuliah di Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Bagaimana menjalankan kehidupan-kehidupan intra kampus bisa kalian baca di sini dan sini. Rangkaian personal opinion yang sekarang sedang kalian baca sendiri, merupakan rangkaian pendapat (yang pastinya non-ilmiah) tentang bagaimana menyikapi kehidupan sebagai seorang mahasiswa yang kebetulan berkuliah dan hidup di suatu atap yang dinamakan HI Unpad. Karena sebetulnya yang gue tulis sekarang ini sudah agak ketinggalan zaman, jadi ya dimaklumi saja kalau misalnya ada sesuatu hal yang kurang atau terlewat. Juga betapa berantakannya hasil tulisan gue akhir-akhir ini.

Tulisan tentang ini mungkin diawali dengan tawaran untuk hadir ke salah satu Konferensi yang dilaksanakan oleh satu forum yang berusaha menganalisis (bisa dibaca juga sebagai kritik atau menjelek-jelekkan secara ilmiah) kebijakan-kebijakan luar negeri yang ada di Indonesia. Awalnya gue tidak berniat untuk hadir ke acara macam ini. Masih penuh dalam otak gue adalah banyaknya tulisan atau obrolan-obrolan yang tidak mengenai isu ataupun tema pada beberapa seminar maupun konferensi ke belakang yang sempat gue ikuti.

Tapi di sisi lain, muncul juga keinginan untuk ikut, bukan sekedar sebagai tempat mejeng atau berharap ketemu member yang mungkin akan muncul di dekat tempat dilaksanakan konferensi tersebut. Tapi juga nama-nama yang dijual sebagai pembicara yang kemungkinan besar akan hadir dan memberikan materi di dalamnya. Dalam pikiran gue, 'kalo misalnya pembicaranya keren gini, gabakal ada omongan ngelantur kali ya? Mana ada professor atau diplomat aktif ngaco ngomongnya.' Setan-setan yang kemudian berbisik dan silih berganti berusaha untuk meyakinkan diri gue supaya datang dan hadir ke sana, juga untuk menambah ilmu pengetahuan digunakan sebagai berbagai macam Apel Adam yang dituangkan secara manis ke telinga gue.

Belum juga dorongan dari beberapa teman untuk hadir dan kemudian mengikuti kegiatan tersebut. Termasuk dari beberapa orang yang sempat berpengaruh di hidup gue (baca: Budak Setan paling efektif) yang mengajak gue untuk ikut serta dan ambil bagian dalam, mengutip perkataan penyelenggara "pesta kebijakan luar negeri paling besar yang diadakan di Indonesia".

Setelah dorongan dari setan dan setengah setan yang merajalela dengan begitu dahsyatnya di telinga gue, akhirnya gue memutuskan untuk ikut serta. Setelah menyelesaikan berbagai atribut dan printilan yang melekat ketika ikut serta sebagai peserta di suatu acara, gue kemudian datang ke acara tersebut. Apa yang ada di mata gue adalah kandang kuda ber-AC yang sangat luas dan berisi banyak orang hingga begitu penuh. Bukan, gue tidak sedang mengeluh mengenai fasilitas yang diberikan oleh penyelenggara acara, gue hanya menganalogikan kepada kalian betapa penuhnya acara tersebut dan betapa banyaknya orang yang datang untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Selesai dengan registrasi, melihat sekilas materi seminar, dan juga menikmati pesan-pesan sponsor yang dibawakan oleh penyelenggara acara. Gue baru menyadari kalau misalnya acara ini banyak sekali didatangi oleh para praktisi kebijakan luar negeri (baca: diplomat) yang datang untuk menambah ilmu, ataupun masyarakat berprospek cerah yang bertugas untuk datang dan berdiskusi sebanyak-banyaknya dengan para expert yang datang dan muncul disana.

Lalu apa yang ada di otak gue? "Wuih keren banget ya", "Lumayan nih buat pamer di IG atau Twitter", sampai "Bisa kenalan sama cewek cakep ga ya disini?" menjadi isi otak gue dalam beberapa detik setelah mengetahui betapa kerennya acara yang gue ikuti ini. Kemudian gue mulai berfoto-foto ria, sembari beberapa kali mencuri dengar dengan apa yang disampaikan oleh panel-panel didepan, dan pidato-pidato membosankan yang disampaikan oleh pejabat tinggi negara yang hadir.

Ya, sindrom-sindrom ingin terlihat keren jelas masuk ke dalam diri dan sanubari gue pada saat itu. Karena selama ini, dalam kehidupan gue di HI Unpad, gue tidak merasakan feel elitist yang muncul ketika menyebutkan diri sebagai mahasiswa HI Unpad. Tapi disini, duduk di konferensi ini, berbicara dan bertanya kepada para panelis yang beberapa diantaranya merupakan orang luar negeri, membuat diri gue jelas-jelas merasa derajat elit-nya naik beberapa tingkat. Belum juga perasaan keren yang muncul ketika hadir dengan pakaian rapi (meskipun bukan suit) saat berada di dalam konferensi ini.

Gejala ingin terlihat keren ini teman-teman. Merupakan salah satu musuh abadi dalam dunia akademis, tapi merupakan dosa paling nikmat yang bisa dirasakan oleh manusia. Terutama dengan adanya kesombongan-kesombongan yang muncul serta perasaan superior. Ya, superior, merasa lebih cerdas, lebih baik, lebih elit, dan lebih berkelas ketika duduk di meja konferensi tersebut. Merasakan apa yang dirasakan ketika membicarakan masa depan dunia dengan berbagai orang dari berbagai belahan dunia. Perasaan superior dan ingin terlihat keren seperti itu yang muncul.

Perasaan yang mirip dengan apa yang dirasakan oleh mahasiswa HI baru ataupun diplomat baru yang baru saja lulus dari Pusdiklat Kemenlu (ups!)

No comments:

Post a Comment