Tuesday, August 9, 2016

Personal Opinion #8: Surat Terbuka Untuk Bapak Menteri

Disclaimer: Surat ini didesain untuk menjadi ajang refleksi diri dan bukan hanya sekedar wadah pelampiasan ketidaksukaan semata. Kita sama-sama dididik menggunakan atmosfer yang sama, menghirup dari udara yang sama, sehingga mau tidak mau pasti memiliki pemahaman akan apa yang disampaikan oleh satu orang di Indonesia ini. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya pikirkan tentang bagaimana seharusnya pendidikan Indonesia direformasi.

Dear Bapak Menteri yang baru,

Sebelumnya, izinkan saya sebagai salah satu dari sekian juta orang Indonesia yang berstatus pelajar untuk menyampaikan ucapan selamat atas dilantiknya bapak menggantikan menteri sebelumnya dalam mengemban amanah untuk memperbaiki dan memajukan pendidikan Indonesia. Saya tahu, berat rasanya memikirkan nasib anak-anak yang harus dibimbing dan di didik dengan benar, agar menjadi apa yang bangsa Indonesia inginkan (Meskipun saya yakin, bahwa yang menginginkan hal itu hanya para orang tua di Indonesia, bukan bangsa itu sendiri).

Saya menulis surat ini, sebagai suatu pernyataan sikap mengenai apa yang bapak menteri sampaikan mengenai wacana full-day school untuk adik-adik di jenjang SD-SMP dan mengganti kodrat pendidikan yang ada di SMA dan SMK.

Bapak menteri yang terhormat,

Sebagai seorang anak Indonesia yang lama mengenyam bangku pendidikan (Ya, saya menghabiskan setengah dari umur saya untuk duduk manis dan menikmati kehidupan sekolah tepat pukul 06.30 sampai pukul 15.00), wacana mengenai sekolah sehari penuh merupakan sesuatu yang berlebihan bagi anak-anak. Saya tidak ingin menggunakan alasan bahwa kodrat anak adalah untuk bermain dan blablabla, tapi sesederhana bahwa orang Indonesia itu tidak suka duduk melakukan sesuatu berlama-lama.

Saya melihat, bapak menteri hanya mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk menghindari anak-anak menjadi liar dan mengurangi potensi tawuran. Tapi, apakah potensi liar dan tawuran itu dapat berkurang, atau bahkan hilang, hanya dengan menambahkan jam belajar di sekolah? Bukankah, itu menambah kesempatan bagi mereka untuk melakukan kegiatan tawuran dan kegiatan liar lainnya serta memindahkan tempatnya justru ke dalam sekolah.

Di satu sisi, saya sepakat bahwa keinginan bapak menteri tersebut baik, tidak ingin anak-anak menjadi tidak terkontrol dan kemudian bersikap seperti narapidana yang diberi golok dan dilepaskan keluar penjara. Tapi apakah wacana tersebut yang terbaik? Saya punya adik yang duduk di bangku SMP, dan jujur sebagai kakak saya merasa kasihan dengan beban yang ia bawa. Buku-buku setebal kamus, tugas-tugas yang berjubel memenuhi porsi pikiran, belum lagi tuntutan lingkungan. Apakah menambah jam belajar akan membuat adik saya ini terhindar dari beban pikiran tersebut atau justru malah menambahnya?

Bapak menteri yang terhormat,

Jam belajar sama sekali tidak berpengaruh pada tingkah laku para siswa. Jujur, saya pulang pukul tiga sore pun tetap saja dapat berbuat bengal di luar sekolah. Yang paling penting dari pengubahan pola pikir dan perbaikan tingkah laku justru terletak pada materi dan bobot yang harus diajarkan. Buanglah segala pendidikan agama yang terkesan menakut-nakuti dan justru membuat kami sebagai siswa merasa tertantang untuk melawan ajaran agama. Buanglah semua pendidikan moral yang menjemukan dan melelahkan, seakan-akan manusia ideal terlahir dari seberapa lebar kami harus tersenyum, seberapa harus kami peduli pada permasalahan tetangga, yang menjuruskan kami menjadi manusia nyinyir dan tukang gosip.

Jam belajar sama sekali tidak berpengaruh terhadap hal ini. Bisa saja adik-adik di SD dan SMP dipulangkan pukul 12 siang atau pukul 1 siang, dan mereka tidak bersikap liar. Karena mereka memiliki pemahaman yang luas mengenai sesuatu. Biarkan mereka memilih jalan sendiri, jam belajar tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk mengurangi potensi keliaran siswa.

Sebagai mantan siswa pendidikan dasar dan menengah, saya hanya ingin meminta bapak menteri untuk mempertimbangkan kembali ketepatan melaksanakan sistem sekolah sehari penuh ini. Apakah keuntungan yang didapatkan akan lebih tinggi, atau justru memicu rentetan permasalahan sosial baru yang tidak pernah diduga.

Bapak menteri yang terhormat,

Mari kita bergeser mengenai adik-adik di SMA dan SMK. Bapak mengatakan bahwa harus ada platform yang jelas untuk SMA, agar mereka yang tidak memilih untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dapat diterima di lingkungan bekerja dan memiliki kapabilitas dan skill yang mumpuni.

Jujur saya masih kurang paham mengenai hal ini, dan karena ketidakpahaman tersebut, bolehkan saya meminta bapak untuk menjelaskan lebih detail apa yang ingin anda lakukan terhadap siswa-siswi yang menjadi generasi penerus bagi bangsa ini?

Pendidikan adalah hal terpenting bagi umat manusia, Bahwa yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana manusia yang dihasilkan dari pendidikan ini dapat memilih jalan penghidupannya sendiri.

Best Regards,

Ivan Andikhairi
Mahasiswa Sarjana FISIP Unpad
Pengenyam wajib belajar 12 tahun.

No comments:

Post a Comment