Monday, April 18, 2016

Personal Opinion #7: Meninjau Perlunya Sekolah-Sekolah Kedinasan

Tulisan ini bukanlah sesuatu yang dianggap sebagai keseriusan semata. Tulisan ini terlahir sebagai akibat dari kontributor kurang gaul yang merasa malas untuk mencari bahan bagus sebagai artikel dan pada akhirnya menemukan informasi tentang Praja-Praja pembunuh IPDN yang berkelahi dengan teman sebangsanya.

Kejadian ini sontak mengingatkan saya juga terhadap sekolah-sekolah kedinasan lain yang sistemnya juga sama seram dengan IPDN. Pemukulan, pembullyan, bahkan sampai penghamilan kepada mahasiswa sekolah kedinasan itu sudah dianggap sebagai suatu hal yang lumrah. Iya, gue mengakui bahwa sistem hamil-hamilan ini ga cuma terjadi di kehidupan para teman-teman sekolah kedinasan, tapi juga ada di Universitas-universitas normal, bahkan Universitas sok aktivis dan sok muslim juga punya insiden-insiden. Ga tanggung-tanggung, beberapa yang melakukan bahkan dosen.

Sudah jadi cerita basi lah ketika harus membahas siapa yang salah. Entah apa yang didapat dari lingkaran pembahasan tidak berujung ini. Terlebih jika harus mengungkap kapan adanya tradisi ini dan bagaimana bisa berkembang.

Akan jadi pembahasan yang asu  kan?

Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian ingin gue alihkan. Jika sekolah-sekolah pencetak kader pemimpin bangsa, pengabdi bangsa saja bobroknya sudah begitu keterlaluan masih layakkah mereka mengabdikan dirinya untuk bangsa? Atau malah mau disuruh ngabdi aja di Alexis dengan imbalan duit lebih banyak dibanding apa yang mereka lakukan ketika sudah lulus dari sekolah kedinasan tersebut?

Pertanyaan akan kembali lagi pada sebetulnya hakikat sekolah kedinasan itu seperti apa? (elah bahasanya)

Kalau merujuk pernyataannya bapak Menteri Dalam Negeri, sekolah-sekolah kedinasan adalah sekolah yang ditunjuk untuk mendidik abdi negara dalam berbagai bidang, dengan harapan mereka memiliki loyalitas yang tinggi ke pengabdian karena sudah dibiayai sejak masa sekolah.

Tapi kenyataannya? Udahlah ya gausah dibahas, yang saya lihat malah para hasil didikan itu mayoritas bermental preman (ga semua lho) dan malah punya sedikit mental pengabdian. Lalu kemudian, jika sekolah kedinasan yang tujuannya mulia ini malah ga bisa mendidik pengabdi bangsa. Arep kepiye? Masih harus dipertahankan? Atau hapus aja biar anggaran negara makin ramping.

Jadi sebetulnya, dalam pandangan saya yang masih kampung dan bodoh ini, sekolah kedinasan itu masih perlu. Ya setidak-tidaknya jadi setitik harapan bagi pemuda-pemuda yang ingin mendaki jalur kenyamanan dengan masuk ke sekolah-sekolah kedinasan.

Tapi apa harus berubah? JELAS! Bagaimanapun, etiket sekolah kedinasan harus lebih halus daripada etika rakyat kebanyakan, mental preman, mental sogok, mental mau gampang dan mau hidup nyaman harus diganti dengan satu kata. PENGABDIAN!

No comments:

Post a Comment