Thursday, February 11, 2016

Personal Opinion #6: Respons Atas Pemberitaan Mengenai LGBT Akhir-Akhir Ini: Sebuah Hate Speech dan Respons Sesaat

Gue harus memperingatkan kalian sebelum lebih dulu membaca mengenai tulisan ini. Tulisan ini gue tulis sebagai respon sesaat untuk melampiaskan kekesalan, rasa duka dan rasa malu yang gue punya terhadap warga negara Republik yang berusaha gue cintai setengah hidup ini. Kalau kalian merupakan orang yang menolak keras LGBT, sok-sok berlindung dibalik topeng kesucian agama, kalian bisa tutup tab ini segera.

Pagi ini gue bangun diawali dengan melihat berita-berita seperti biasa, baik di situs yang mainstream dan situs anti-mainstream sebelum kemudian beralih dan memelototi salah satu situs artikel opini favorit gue (read: mojok.co) ketika gue tergelitik bahwa bahkan situs yang katanya menolak menjadi aliran utama ini malah ga membahas isu-isu yang juga ga dibahas pada media mainstream. Hanya ada beberapa artikel yang membahas mengenai isu LGBT atau kalau mau ditarik mundur, yang agak banyak adalah ketika ribut-ribut SGRC UI yang katanya "gay bar" terselubung dan tanggapan bapak menteri kita yang terhormat itu.

Bukan, bukan ketidakinginan atau ketidaktersediaan artikel bagus di mojok yang bahas tentang orang yang berbeda yang mau gue permasalahkan disini. Yang ingin gue permasalahkan justru ketakutan masyarakat Indonesia sama hal yang ga dia tahu. Serius deh, gue tau lo ga suka sama LGBT bukan karena sikap mereka yang "katanya" doyan free sex, penyakit seksual berbahaya, penyimpangan kejiwaan dan seterusnya dan seterusnya kan. Jujur lah, kalian ga suka sama LGBT karena kalian ga tau apa itu LGBT-dan Intersex di beberapa sumber- dan kalian takut menghadapinya bukan?

Ayolah, di abad-21 dimana Dunia sedang membicarakan kolonisasi di suatu planet kebenaran bukanlah hal yang sulit untuk dicari atau ditemukan. Yang membuat gue terkejut adalah sikap-sikap ini diamini dan dimakmumi oleh para petinggi negara. Orang-orang yang seharusnya menjadi bagian dari garda terdepan perlindungan semua umat.

Kebanyakan dari mereka justru ikut memanas-manasi, seperti kasus SGRC dan Bapak Menristekdikti yang terhormat atau seperti kasus terbaru antara Aktivis Pelangi, FPI, dan Polsek Menteng yang dengan ndak tahu malu karena menggeruduk sebuah aktivitas pendidikan dan membekingi (implisit atau keliatan kek, kaga ada yang peduli) sebuah ormas yang jelas-jelas kerjaannya cuma bikin rusak fasilitas umum. Akika Saya merasa malu secara personal terhadap kegiatan penggerudukan itu. Bukan penggerudukannya yang bikin malu, saya yakin bapak-bapak pasti cari-cari mempunyai alasan atas keharusan tiba-tiba acara ditempat tertutup harus memiliki izin kepada kepolisian. Tapi intimidasinya itu lho pak. Ayolah ini bukan zamannya Orde Biadab Baru yang apa-apa pake harus ditakut-takuti. Manusia lho pak, bukan ayam.

Selanjutnya tentang AA Gym dan Line yang tiba-tiba musuhan karena ada sticker cowok peluk cowok. Ahelah tadz, uztadz ngelihat cewek-cewek pelukan dan saling cipika-cipiki biasa, ngeliat cowok-cowok di Arab sana pelukan mesra dan saling cium kening biasa. Lha kok ini cuma karena sticker Line yang keliatan cowok pelukan kok nganggep promosi LGBT. Siapa tau, siapa tau lho tadz, creator si sticker ternyata terinspirasi dari adat dan budaya di Arab sono. Coba sticker cowok pelukannya itu pake gamis panjang terus pake terban, apa Ustadz AA Gym akan protes dan nganggep itu promosi LGBT? Hayo, kepiye?

Satu lagi, untuk kasus perseteruannya bapak Menkominfo dengan WhatsApp, coba analogi yang dipake buat ngejelasin ke AA Gym ini dipake. Hayo, bapak masih mau protes itu promosi LGBT? Padahal di Arab sono, yang ketat banget aturannya dan pastinya lebih ketat dari celananya para personel The Changcuters mereka boleh kok pelukan dan saling cium-cium mesra. Eh siapa tau, salah satu dari orang Arab itu ada yang horny dan mengakhiri kehornyanya dengan menghabiskan sabun cair dan tisu. Siapa tau? Toh, kita kan bolehnya husnudzon. Sama dengan saya husnudzon bahwa bapak polisi, para ustadz bersurban SNI FPI, Aa Gym, dan Kemenkominfo yang terhormat pasti punya alasan kenapa menolak para LGBT selain karena ketidaktahuan tadi. Iya tho? Saya husnudzon lho ini. :)

Ya, gue mengakui bahwa ini merupakan kategori hate speech yang ada di dalam surat edarannya bapak Kapolri yang terhormat. Tapi gue rasa, ketakutan itu harus diakhiri. Kita tidak akan pernah kemana-mana dengan rasa takut, kita hanya akan membuat pengkerdilan diri dan perlindungan dibalik agama. Yang meskipun dipakai atau tidak, akan selalu melindungi kita. Penasaran dengan kegarisan tema? Coba baca tweet @ivandikhairi ya... 

Salam Dian Pelangi.

No comments:

Post a Comment