Wednesday, January 6, 2016

Keping Memori #2: Refresh? "Tahun Baru Harus Diawali dengan Sesuatu yang Baru Bukan?"-sebuah catatan kecil

Tahun Baru merupakan sebuah ajang untuk merefleksi diri serta terkadang dijadikan waktu untuk beranjangsana ke berbagai kerabat, memberikannya kesempatan untuk merayakan bersama-sama. Tulisan ini merupakan bentuk refleksi atas kejadian-kejadian pribadi tahun lalu serta bagaimana perkembangan-perkembangan pemikiran yang sepertinya terjadi di tahun 2015 lalu. 

Happy reading.
Tahun 2015 bagi gue merupakan sebuah rentang waktu yang lama. Jika dilihat, tahun itu merupakan sebuah waktu dimana kemampuan akademis diperas dan diuji lagi. Memperlihatkan apakah gue sudah layak meninggalkan status "siswa" dan menjadi sesuatu yang menurut kebanyakan orang merupakan predikat yang lebih tinggi dari itu. Harus diakui, kehidupan sebagai siswa merupakan sebuah keadaan yang menyenangkan dan akan menjadi sesuatu yang bagi gue sendiri layak untuk dikenang.

Kehidupan akademis gue mencapai akumulasi tertinggi dan berada di titik puncak ketika cita-cita yang gue rancang 6 sampai 7 tahun yang lalu akhirnya tercapai. Yap, gue merupakan salah satu dari 78 mahasiswa baru yang bisa merasakan nyamannya bangku kuliah di Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Disini, gue merasa Tuhan merupakan pendengar yang baik. Cita-cita lama yang selalu gue ulang-ulang selalu gue simpan di dalam kotak memori paling dalam ternyata bisa tercapai.

Disini juga ternyata kehidupan akademis itu mengalami suatu ujian yang cukup besar. Semua perspektif yang sudah dipegang ternyata dianggap salah ketika gue duduk di bangku perguruan tinggi. Beberapa dinyatakan bisa dipakai lagi, tapi lebih banyak perspektif itu yang setelah didiskusikan, punya kelemahan tersendiri dan harusnya udah ga bisa dipakai lagi karena sudah usang. Tapi sebagai gantinya, gue mendapatkan berbagai perspektif baru juga cara memandang permasalahan dan mencari solusinya.

Pindah ke dunia pribadi (apasik, ah sudahlah nikmati saja), ada sedikit kemajuan. Gue punya beberapa teman di tahun pertama kuliah. Ya, sedikit kemajuanlah dibanding di masa SMP dan SMA yang sepertinya kehidupan gue tidak jauh-jauh dari nulis (baca: bikin puisi alay dan cerpen-cerpen gaje yang filenya udah ilang karena ditulis tangan), makan, tidur, ngidol, dan mendengarkan musik-musik yang kayaknya jarang muncul di permukaan dan bukan bagian dari mainstream music.

Ah, ngomong-ngomong tentang nulis-menulis, akhirnya gue dengan bangga dapat mengatakan kepada kalian kalau gue punya novel (hip hurray.... apadah). Proyek yang aslinya merupakan perkembangan dari proyek kolaborasi gue dengan seorang teman, akhirnya bisa menjadi novel dengan judul "Lalu Apa?" Ceritanya simpel, mainstream, romance abis, ga layak baca, dan tidak mengundang air mata. Setelah proyek ini sih rencananya mau bikin lagi sebuah proyek novel yang sedikit lebih serius. Tema besarnya adalah "Pandangan Masyarakat terhadap para LGBT" tapi gue masih mengalami kemandekan di pengembangan ceritanya.

Sedikit penutup terhadap sebuah review dan cerita "pribadi" yang gue share disini. Beberapa saat sebelum tahun baru, gue bertemu tutor yang sudah lama dirindukan. Kami mendiskusikan banyak hal dan kata-kata yang nyangkut banget di otak gue adalah

Intelektualitas merupakan sebuah anugrah paling indah yang diberikan Tuhan kepada umat manusia tapi jika tanpa sebuah kemampuan menggunakan bahasa yang baik, maka anugrah itu hanya akan menjadi sampah yang membebani diri sendiri. -Troy Vladznovsky (jangan tanya kenapa) *dengan banyak pengubahan*

Credit: Tulisan ini tidak disarankan dibaca oleh orang yang tidak peduli pada orang lain, tidak mengerti apa sebetulnya maksud berbagi gue, bingung dengan siapa sebetulnya gue, dan orang-orang yang sangat tidak suka dengan gue. Meskipun demikian, gue sebetulnya menyayangi kalian semua. Baik yang membenci ataupun yang sesungguhnya diam-diam memperhatikan.

No comments:

Post a Comment