Wednesday, November 4, 2015

Impression #1: Seberapa Besar Sebuah Cerita Berpengaruh?

Ini bukan review novel. Meskipun mungkin gue akan tempatin ini di post review. Masih belom layak lah gue untuk nulis review sebuah karsas (read: karya sastra) emangnya gue siapa? Well, yang akan gue tulis disini adalah apa yang terlintas di benak gue ketika gue membaca novel Ika Natassa yang menjadi list pertama dalam novel yang wajib dibaca-nya salah satu idola gue (Tau lah siapa.. Eh, gatau?  sabar ya ) Judulnya Critical Eleven dan gue harap, lo menyukai cerita yang gue tumpahkan disini. Sama seperti gue menyukai novel ini, dan idola gue. Ups..
Seperti yang diungkapkan diawal tadi, gue tertarik dengan ini karena saran di blog salah satu idola gue (udah, lo semua ga perlu tau itu siapa). Dia bercerita disini kalau misalnya novel ini bercerita dengan sepasang suami istri, yang bertengkar karena suatu masalah dan akhirnya mencoba untuk berdamai dan menyelesaikan masalah tersebut. Dengan caranya masing-masing, meskipun gagal dan terlihat tidak pernah berhasil (Well, gue salut sama lo, Aldebaran Risjad. Kalo gue jadi lo, gue mungkin ga akan sekuat itu). Akhirnya gue beli lah saat gue ada di Nangor ini, melanjutkan kuliah, mencoba mengobati patah hati dengan menyelesaikan proyek ke (Ini sih harusnya proyek ketiga, tapi karena proyek pertama ga selesai. Anggap ajalah proyek kedua) yang ceritanya tentang pandangan masyarakat sama mereka yang orientasinya menyimpang (Tenang, belom niat gue terbitin kok. Gue tau itu isu masih sensitif di negara Indonesia tercinta ini). Oke, skip. Mungkin gue harus fokus lagi ke cerita apa yang gue rasakan ketika gue membaca novel ini.

First of all, impresi gue terhadap novel ini biasa aja. Yah, dengan skala 0-10 yang bisa gue berikan terhadap sebuah novel, gue akan berikan point mungkin sekitar 7,9. Bukan karena ceritanya kurang panas, atau ilustrasinya yang emang cuma gitu doang. Tapi lebih karena, jalan ceritanya datar. Mirip sebuah biografi, atau autobiografi yang gue cerna dengan cepat. Enteng, tapi juga menyentuh. Serta yang paling gue suka adalah gimana Mbak Ika Natassa ini meramu novelnya kayak ngeramu kopi. Tenang, dengan pas, dan juga mampu mengeluarkan unsur terbaik dari kopi ini. Seakan dia barista terkenal.

Terus, seperti biasa, gue menyelami buku ini, mencoba mencari tahu apa yang bisa gue dapat. Dan yang gue dapat? Bahwa gimanapun kita membenci mereka, gimana pun kita tidak suka dan bagaimanapun kita berusaha ngebenci mereka. Kita ga akan pernah bisa membenci, melupakan atau bahkan setidaknya berusaha membenci mereka yang kehadirannya di hidup kita seenteng kita bernafas, atau seenteng gimana caranya mengembalikan ingatan tentang trivia diri kita saat bangun tidur. Damn, disini gue mulai merasa kesal sama Mbak Ika ini. Kok bisa-bisanya ya yang dilakuin si tokoh utama cowok di novel ini (FYI, namanya Aldebaran Risjad dan dipanggil Ale) mirip dengan bagaimana gue lakukan ini ke cewek yang sukses bikin hati gue rasanya kayak ditampar bolak balik, disiksa pake waterboarding dan dibekep dalam sebuah sel sempit gelap selama berminggu-minggu yang asing di Guantanamo.

Okay, enough, kok gue malah jadi baper. Tapi kemudian, sejak ceritanya berkembang. Alur maju mundur yang digunakan Mbak Ika ini rupanya sukses membuat gue juga ikut terhanyut dalam aliran waktu yang diciptakan dia. Sukses membangun imaji tentang bagaimana kita harus berusaha bersikap sebagai pasangan. Mengambil alih hatinya (lagi dan lagi), berusaha mencintainya dengan benar. Seperti kata bapaknya Ale suatu ketika saat mereka main catur. Yang tentu saja selalu tidak sukses terekam jelas di otak gue, yang bisa gue ambil intisarinya doang (Maaf buat mbak Ika yang quotes manisnya di novel ini gue acak-acak sesuka hati).
Istri itu udah kayak kopi Le. Kopi terbaik, sekarang tinggal kitanya sebagai peracik kopi ini. Berhasilkah mengeluarkan aroma kopi yang benar, dan rasa yang benar dengan memerlakukannya dengan baik dan benar pula. 
Yang sukses ditambahkan Ale dengan (Sekali lagi maafkan gue ya mbak Ika karena mengacak-acak quotesnya di novel ini).
Sehingga bukan salahku ketika istriku tidak berlaku dengan baik dan benar ke gue. Tapi karena gue sendiri aja yang memerlakukan ia dengan tidak baik. Mungkin ini juga sebagai hukuman gue blablabla.
Well, gue terenyuh dengan quotes ini. Pelajaran berharga yang menampar gue juga bahwa mungkin yang menyebabkan dia kabur dari gue adalah karena gue tidak pernah memerlakukan dia dengan benar. Bahwa gue salah melakukan sesuatu terhadapnya, dan itu yang menyebabkan warna, bau, serta rasa yang sebenarnya malah ga keluar. Yang ada dia pergi jauh-jauh dari hidup gue. Padahal mah masih satu kampus juga.

So, berbekal semua informasi itu. Juga referensi tentang sastra dan seni budaya yang kaya serta diselipkan secara hati-hati sehingga ga menimbulkan efek mual karena membaca istilah-istilah yang terkesan canggih dan kata-kata yang kesannya emang udah cocok ditaro di menara gading. Gue dengan bangga juga akan mengatakan kepada dunia, bahwa ini salah satu novel roman yang cocok dibaca kira-kira dari yang udah punya KTP lah ya. Karena beberapa adegan suami istri yang meskipun dikemas secara romantis, gue rasa tetep gaboleh dibaca anak dibawah umur.

Untuk mbak Ika, terimakasih sudah mau menampar gue melalui novelnya, bahwa sesungguhnya hidup itu adalah pelajaran, pelajaran tentang mencintai, dan seperti yang secara eksplisit ditulis dibagian awal novel. Hidup itu tentang memori, baik yang berupa procedural, emotional, sampe yang secara sadar kita ingat karena itu adalah trivia. Terimakasih yang sebesar-besarnya karena sudah menampilkan novel dewasa rasa remaja (Meskipun emang ga remaja-remaja banget sih). Dan terimakasih juga, untuk mengizinkan gue diperkenalkan dengan Aldebaran Risjad dan Tanya Laetitia Baskoro yang membantu mbak Ika untuk menampar gue melalui sikap mereka.

Akhir kata, novel ini memang dari gue cuma dapet angka 7,9. Tapi, mungkin karena gue yang ga jago menilai atau emang guenya aja yang bodoh jadi reviewer. Satu hal yang pasti, novel ini akan mendapatkan nilai yang sangat lebih dari kalian. Gue berani jamin itu, dan mungkin idol gue juga. Hahahahaha......

Terimakasih juga sudah mau repot-repot membaca dan mengunjungi blog gue. Meksipun gue tau kalian mungkin ga nangkep apa sih sebetulnya isi blog gue yang emang rada-rada ngajak ribut ini. Tapi terimakasih karena kalian mau setidaknya meluangkan waktu membaca post gue, mungkin muak, mungkin menikmati. Anyway, tetep aja terimakasih gue ucapkan buat kalian. (Edisi template dekidol) Hahahahaha........

2 comments:

  1. Setuju banget bang!

    ReplyDelete
  2. ivaaaaaan baca ika natassa yang lain juga. apalagi antologi rasa beuh itu udah rajanya novel ika natassa (kalau kata gue). baper sebaper bapernya gue baca itu novel.

    ReplyDelete