Friday, October 23, 2015

Flash #1: Sebuah Cerita di Tengah Kebosanan

Ini cerita pendek yang tercetus tiba-tiba saat gue bosan. Bukan ff, gue gasuka nulis ff karena gue gajago bikin cerita yang karakternya tuh terikat banget. Kalo nulis ff kan gue merhatiin ekspektasi pembaca, yang pasti gamau karakternya gue jauhin dari karakter asli. Bukan ini semacam curcol yang gue bikin jadi kayak cerpen aja. Makanya paling pendek. Kalo misalnya ga nemu maksud cerpen ini jangan maksain nyari ya. Kasian kalo otak-otak lo pada ngebul, kalo awalnya juga aneh juga jangan diterusin. Gue gamau menyiksa kalian dengan cerita yang gue bikin dan ga mutu ini. Kalo ada ide yang bagusan pasti akan gue post kok. Jadi tolong, tetep pantengin ya... Oya, kejadiannya ga betulan, tapi namanya gue comot dari nama asli. Sorry papah ketang... hahahahaha.......
"Jadi menurut lo bagaimana?" Seorang cowok menepuk bahuku pelan sambil masih memerhatikanku yang malah membaca novel.

"Naon? Proposalnya? Udah gue cek kok. Tinggal nanti lo revisi terus gue tandatanganin."

Aku masih sibuk membaca novelku, toh memang proposalnya sudah habis dicoret-coreti olehku, dan aku sedang tidak mood untuk memperlama proposal ini ada ditanganku. Ada sedikit masalah yang terus mengganggu dan saat ini sedang kutenggelamkan dengan novel. Menyadari kalau aku sedang malas untuk meladeni obrolannya tentang pekerjaan, Nabil kemudian mengambil proposalnya dan duduk disebelahku di bangku taman itu. Melirik sejenak, tetap saja aku masih asik menyelami novelku.

"Kenapa sih lo selalu membaca novel kalau misalnya ada masalah? Kenapa ga pake cara lain?"

"Hmm... harus gue jawab?" Aku berusaha menghindari pertanyaan ini, bukan apa-apa, banyak sekali yang selalu memertanyakan kenapa jalan pikiranku tidak pernah sama dengan orang normal lainnya. Kenapa aku selalu berbeda, kenapa aku selalu menjadi orang yang tidak pernah mau setidaknya berbaur dan tidak menarik diri.

"Kalo ga jawab juga gapapa." Masih sambil memerhatikan proposal yang tadi aku review, dia kemudian mencomot salah satu sandwichku sambil beranjak pergi.

Ada banyak yang salah dengan diriku, aku bukan orang normal. Tidak pernah menjadi bagian dari yang disebut orang normal. Hobiku adalah menjauhi, mungkin juga dijauhi orang-orang. Observer, mantan pacarku selalu mengingatkanku dengan lembut. Selalu menarik diri, menjadi yang paling netral, tapi juga menjadi yang paling sadis dan kasar dalam berbicara dan analisis. Orang-orang tidak pernah suka dengan caraku menyampaikan sesuatu, terlepas dengan kekaguman mereka pada seonggok benda yang tertanam dikepalaku.

Mengenai masalah yang ditanyakan Nabil, aku hanya menyeringai mengenang salah satu quote favoritku dulu.
Membaca buku itu adalah semacam pelajaran mengetahui diri, sensasi kosong sejenak ketika lo membalik halaman yang membuat memori mampu menyerap bacaan. Ini juga menjadi semacam cara mengatur hati lo, terkadang ada saat dimana gue tidak bisa menyerap satupun yang tertulis di buku. Atau ada saat dimana ketika bahkan perasaan gue sedang buruk sekalipun, gue bisa menamatkan bacaan dengan cepat. Hal itu membuat gue bertanya-tanya, ada apa sebenarnya.
Ya memang itulah yang membuatku senang membaca buku, cetak! Dan itu juga yang membuat kemampuan benda yang tertanam dikepalaku ini selalu naik berlipat-lipat. Tidak peduli seberapa sering aku merusaknya. (Tolong jangan tanya bagaimana caranya, IYKWIM) Hal ini juga yang membuatku selalu dingin dan kaku, selalu menjadi orang yang tidak mengalami apa-apa. Selalu mengambil jarak, dan bahkan tidak mengalami apa-apa saat orang lain menangis membaca sebuah buku.

Mati rasa? Mungkin iya, tapi terkadang mati rasa ini membuatku jenuh. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap selain diam dan dingin, selain kasar dan jujur. Hal ini membuatku ingin menjadi orang lain, ingin membuatku bisa bebas dan tertawa. Semuanya hanya terasa hambar dan membosankan.

"Gimana? Ada perkembangan?" Nabil bertanya kepadaku sambil mengambil novelku dan mencomot sandwichku yang tersisa setengahnya.

"Gue bosan. Lo mau makan bekas gue?" Sambil mengangkat bahu, Nabil mengunyah sandwichku dengan tenang.

"Bosan? Tumben... Ada apa?"

"Bosen jadi orang ga normal, cerdas tapi kasar, kalem tapi membunuh, dan terlihat baik tapi sebetulnya menjijikkan."

"Ngomong apa sih lo. Hahahaa....." Nabil tertawa sambil kebingungan menyerap kata-kataku.

"Intinya gue bosan. Kayaknya apa yang gue lakuin ga sesuai ama gue. Apa yang gue pilih keliatannya salah, meskipun gue suka dengan bidang itu."

"Yang namanya udah dilakonin tuh ya dilakonin ampe kelar. Paling juga itu karena titik jenuh lo. Atau bisa aja karena lo kehilangan semangat. Kenapa? Kangen sama kating biologi itu?"

"Anjrit.. Nggalah, gue udah ga ada apa-apa lagi sama dia. Sebatas temen pun kayaknya juga udah bukan."

No comments:

Post a Comment