Tuesday, October 20, 2015

Cerita Pendek #2: "Salahkah?": Renungan singkat mengenai LGBT

Seperti biasa, disclaimer bakal gue taro paling depan disini. Ceritanya gue baru aja baca banyak banget fanfiction (ya, gimana juga mereka bentuk sastra kontemporer) yang rame banget ngambil tema LGBT. Bukannya dukung atau apa, mungkin gue nulis cerita ini pun juga sebagai tulisan bias dari sisi orang yang menjalani LGBT itu sendiri. Hampura kalo ceritanya kalian anggap kependekan. Udah malem soalnya, jadi otak juga rada-rada ngadat. Kalo ga nemu apa intinya jangan terlalu dicari, mungkin cerita singkat ini hanya untuk dinikmati.

Untuk kategori umur: Ini agak rated ya, jadi tolong kalo ada anak kecil buka-nya bareng orang tua. Atau ada remaja tanggung yang mau buka tolong ajak orang dewasa. Bukan karena ada adegan vulgar, supaya kalian ga salah kaprah aja. Selamat membaca dan semoga menikmati seperti ketika gue menemukan keinginan untuk menulisnya.

Aku sedang membaca berbagai ranah lini massa dan portal berita online yang masih rame-ramenya bahas penetapan undang-undang mengenai LGBT di US sana. Tidak tertarik dan langsung men-skip ke bagian yang lainnya. Masih sama juga, semua portal membahas berita-berita itu secara bias. Bahkan secara acak, aku menemukan sebuah komen yang lucu.
Dengan penetapan Undang-Undang mengenai homoseksual dan lesbian ini, berarti sudah menunjukkan betapa tidak bermoralnya Amerika. Mereka membiarkan kerusuhan sosial yang akan terjadi jika LGBT disahkan. Tidak memerhatikan pula perasaan manusia-manusia yang ada didalam payung hukumnya. Main melakukan pengesahan aturan secara sewenang-wenang.
Masih tertawa kecil, tiba-tiba ikan paus sudah duduk disampingku dan menyodorkan minuman dingin ke pipi. Sambil kebingungan dia kemudian mengambil ponselku dan membacanya sambil ber-ohh ria.

"Tentang ini toh, ga bosen-bosen ya bahas itu mulu. Kayak mereka paling suci aja, kerjaannya ngurus orang mulu. Atau ga punya kerjaan kali ya."

Terkikik geli, aku berusaha tersenyum sebelum menjawab pelan.

"Yaudahlah kan. Toh juga mereka kan ga pernah ngerasain bagaimana hidup sebagai seorang yang minoritas itu. Kekhususan mereka selalu aja ditolak dimana-mana, dianggap bertentangan dengan berbagai agama."

Tersenyum lembut, ikan paus mulai menarik aku untuk merebahkan kepala di bahunya yang selalu nyaman. Aku kemudian menyembunyikan wajahku ke bahunya sembari mencari posisi yang nyaman untuk menghirup lembut bau khas tubuhnya yang tercampur cologne yang dibelikannya. Mengernyit karena merasakan hidungku yang sepertinya mengendus-endus tubuhnya membuatku tertawa dan kemudian merebahkan kepala.

"Gimana ya rasanya jadi mereka? Berkomentar terus menerus tapi tidak tahu sebetulnya apa yang terjadi."

Tidak menjawab, ikan pausku ini malah asyik bermain dan tidak menggubrisku. Merasa kesal, aku kemudian mencubit pelan perutnya sambil tersenyum.

***

Hari ini minggu dan berita-berita yang membahas mengenai itu terus saja berseliweran, seakan mereka adalah orang-orang suci yang sedang memandang orang-orang di puncak bukit golgata. Berkhotbah tidak jemu dan menuding-nudingkan jari ke teman-teman yang memiliki orientasi khusus tentang preferensi seksualnya. Banyak orang yang setuju dengan pendapat mereka "Merusak agama dan anak muda" menurut mereka. Tapi tidak sedikit juga yang kemudian berdiri dibarisan para pembela. Menekankan lagi tentang hak asasi manusia yang mutlak, yang harus dipenuhi, bahkan secara ekstrem harus diberikan ruang tanpa diskriminasi seluas-luasnya.

Aku bukan analis, cuma seorang gadis yang kebetulan sedang menyelesaikan kuliah desain visual di salah satu perguruan tinggi. Tapi melihat mereka yang terus-terus berkhotbah dan mengancam dengan menggunakan nama Tuhan membuatku risih. Bagaimanapun juga kekuasaan Tuhan itu sakral, dan bukan sesuatu yang bisa dengan mudah diucapkan manusia untuk membela keinginannya.

Melamun dan terus memikirkan mengenai mereka yang masih saja senang berkhotbah melalui media maya, seakan benar-benar mereka berkhotbah melalui puncak bukit golgata yang menyeru kaum babilonia untuk bertobat. Tiba-tiba ikan paus sudah berdiri dengan gagah dihadapanku. Kaus ngepas dan celana belelnya membuat orang ini bertambah dua kali lipat kegagahannya di mata dia.

"Kamu keren banget Kan." Sambil berdecak kagum dan tersenyum lembut.

Yang punya nama malah tertawa dan kemudian menggandeng tangannya pelan.

"Kamu juga cantik banget Ba. Kayak mau dateng ke acara launching busana dimana gitu."

Tersenyum lembut, aku memilih tidak menjawab godaan ikan pausku itu. Malah bertanya,

"Kita mau makan dimana Kan?"

"Udah, ikut aja."

***

Aku dan ikan paus sedang menikmati dinner mereka saat menyadari pengunjung restoran yang lain berbisik-bisik sambil menatap kearah meja kami. Merasa risih, aku menundukkan kepala dan bernafas berat. Yang hanya bisa dijawab ikan paus dengan helaan nafas.

"Kenapa ya mereka tidak pernah mau mencoba memahami posisi kita. Setiap orang selalu beranggapan seperti kita barang kotor." Ikan pausku mencoba menuntaskan gundah gulananya sambil menyeruput coklat panas dan memotong kembali martabak kejunya yang masih bersisa.

"Gatau juga Kan. Mungkin karena kita minoritas, dan kita ga lazim kayak orang-orang lainnya. Jadi mereka juga membicarakan kita, penasaran dengan kita tapi ga berani untuk ngungkapin langsung."

"Emang salah banget ya? Aku ngeliat terus seliweran di lini massa dan portal berita yang terus aja menyalahkan kita-kita. Seakan mereka orang suci dan kita sekumpulan anjing kotor yang bisa mereka bunuh terus jadiin kita keset di pintu rumahnya."

Aku tidak berani menjawab omongan ikan pausku  lagi. Dari dulu memang ia yang paling berani. Tapi bagaimana pula meyakinkan mereka mengenai kami ini. Aku tahu ikan paus dan aku bukan orang yang istimewa dan spesial. Kami hanya terjebak cinta yang dalam, yang tulus dan menyenangkan. Jauh dari perasaan menyakiti dan tersakiti, bahkan aku tidak pernah menemukan keributan besar karena masalah sepele.

Tapi sebegitu salahkah ini semua? Betulkah ini karunia dari Tuhan Yang katanya Maha Tertinggi? Atau ini hanya delusi aku dan ikan pausku, juga sebagian teman-temanku yang memiliki cerita yang hampir mirip denganku. Ketika kami yang sama-sama menggunakan rok dan berdandan saling mencinta, saling berbagi dan memadu kasih. Mencoba mereguk karunia Tuhan selama-lamanya, seindah-indahnya.

No comments:

Post a Comment