Sunday, November 1, 2015

Pena Usang #2: Nada Yang Tak Layak Disampaikan

Gue hari ini entah sedang apa, kehilangan kemampuan untuk menyusun rangkaian kata menjadi cerita. Yang tersisa hanya kumpulan kata acak yang masih bisa disusun menjadi puisi-puisi ringan. Semoga saja masih dapat dinikmati, meskipun reader gue biasanya paling sedikit di puisi.
Masih sendiri dan menikmati sepi
Diiringi musik duka, banyak pemandangan yang terlewatkan
Tapi aku masih menyenanginya

Ketika aku membuka mata
Perlahan dapat kuresapi ayunya. Membuatku menatap semesta
Tuhan, engkau ciptakan bidadari yang begitu indah
Izinkan, izinkan aku memeluknya sejenak

Walau kami mengecup,
Tapi tak bisa memeluk
Takdir Tuhan adalah rasa paling sakit yang ada
Semesta seakan menolak, menggigilkan rasa sakit yang tak ada

Masih sendiri dan menikmati sepi
Diiringi musik duka, banyak pemandangan yang aku lewatkan

Kami memang sama,
Tapi tak dipersatukan dalam rangkaian nada
Karena kami mengenakan baju yang sama
Serta berasal, dari tempat yang sama

Tuhan izinkan,
Gantilah bajuku ini, agar kami tak memakai gaun yang sama
Dan mampu mendekap dalam rangkaian cinta

No comments:

Post a Comment