Sunday, July 19, 2015

Cerita Pendek#1: Sebuah Renungan

"Kamu sudah melanggar syariat Islam. Seharusnyalah kamu dihukum dengan berat. Cambukan dua ratus kali saya rasa cukup untuk menyadarkan kamu."Ucapan orang yang berada dibalik bayang-bayang itu sangat mengejutkanku.
Kalau diterangkan, aku sebetulnya hanya berada diluar rumah pada saat jam malam mulai diberlakukan, sesuatu yang tidak pernah ada pada masa kekuasaan sebelumnya. Tapi sebuah kekuasaan dari entitas asing yang memaksakan kehendaknya mulai mengganti semuanya. Tatanan, sistem sosial, bahkan sekedar kebebasan berpikir. Azas pluralitas yang selama ini aku hargai dipaksakan hilang dari dunia dimana aku tinggal. Ketentraman yang diusahakan sejak lama hilang begitu saja saat entitas baru yang memaksakan diri untuk disebut negara ini mulai mengambil alih kekuasaan.

Tiba-tiba saja aku tidak diizinkan untuk bersekolah lagi, semua teman-teman yang bergender sama denganku dipaksa untuk berhenti sekolah. Kami hanya diizinkan bergerak di area tertentu dan hanya diizinkan untuk mampu sedikit membaca, sedikit menghitung, dan sedikit menulis. Buku-buku diharamkan dari kami. Kebebasan berpikirku dikungkung, dan aku dipaksa hanya menjadi pelayan dirumahku sendiri. Aksesku terhadap dunia luar dihilangkan, meskipun sering secara sembunyi-sembunyi aku pergi dari rumah. Sekedar untuk menenangkan pikiran, mencari informasi, mendengarkan orang-orang bergunjing tentang entitas baru itu yang mulai sewenang-wenang dengan menjadi Tuhan. Seperti ini, aku sedang diam-diam mendengarkan sepasukan orang dari entitas itu yang sedang sibuk sendiri untuk memilih wanita yang mereka inginkan.

Dari arah belakang, ada seseorang yang menangkapku dan menyeretku dengan paksa ke sebuah bangunan kecil. Disana berhadapan dengan orang yang berada dibalik bayang-bayang itu aku diinterograsi. Semuanya menyudutkanku, aku bahkan tidak diizinkan untuk membela diri sama sekali. Yang aku tahu kemudian adalah hukuman dua ratus kali cambukan itu harus diterima olehku. Bahkan pengadaan hukumannya langsung dilaksanakan esok harinya, aku tidak diizinkan untuk mendapat bantuan hukum.
***
Hari ini merupakan hari eksekusiku, seorang pencambuk dan dua orang yang ditugaskan mengikatku mengapit dengan erat. Seakan mereka menghindari aku kabur, tapi mengizinkan wajahku diekspos. Mereka kemudian menyeretku keluar, memaksaku kemudian untuk berlutut dan mengikatku ke tiang pancangan. Sementara sang pencambuk, yang sudah sejak awal tidak bersuara mulai melecut-lecutkan cambuknya, menimbulkan sensasi panas disekelilingku. Tepat saat hukuman akan dilaksanakan, tiba-tiba seorang laki-laki, membawa rosario bersalib berdiri menantang sang pencambuk. Hakim yang berada disana, laki-laki yang masih saja berada dibawah bayang-bayang bertanya dengan menggelegar.

"Apa yang anda inginkan. Apakah kau tidak menyayangi nyawamu dengan mencampuri urusan kami. Hai kafir bersalib?"

"Aku bukan ingin mencampuri urusan kaum anda, yang berada dibawah bayang-bayang. Justru saya ingin menyenangkan anda dengan menggantikan wanita ini. Nyawa saya halal bukan ditangan anda?" Pria itu kemudian menghampiri tempat dimana aku akan dicambuk

Laki-laki berosario itu berkomat-kamit sebentar sebelum kemudian melepaskan baju dan jubahnya. Mengalungkan rosario yang semenjak tadi digenggamnya, sebelum kemudian melepaskan ikatanku. Mengucapkan terimakasih lirih sebelum kemudian keluargaku memelukku dengan erat, ketika aku berbalik dia bahkan tidak mengikat dirinya, tapi mengizinkan sang pencambuk untuk menghajarnya. Dengan sekali sentak, hukuman itu dimulai. Setiap cambukan yang ia terima, ia hanya menyebut nama Tuhan yang ia percaya dalam diam. Aku merasakan bibirnya bergetar setiap kali dicambuk mengucapkan kata yang sama. 

Setelah cambukan ke dua ratus, masih dengan mengucapkan nama yang sama, ia kemudian dipapah oleh teman-temannya yang langsung membungkusnya dengan jubah pastor. Pemberian romo yang lewat barusan. Aku terkesima, aku justru menemukan kedamaian di agama lain yang diisukan sangat berlawanan. Aku hanya menemukan rasa takut pada agama yang aku anut. Entitas itu selalu berteriak-teriak bahwa mereka bertindak sebagai agama yang toleran, agama yang penganutnya percaya bahwa ia membawa kebaikan bagi semesta. Tapi aku justru hanya menemukan rasa takut, tidak ada rahmat yang dibawa oleh mereka.
***
Semenjak kejadian itu, aku semakin dekat dengan calon pastor ini. Terkadang aku mengunjungi biaranya yang terpencil. Membawakan mereka makanan, sebagai gantinya aku membaca buku-buku yang berhasil diselamatkan oleh kelompok biarawan ini. Buku-buku yang belum sempat dibakar, buku-buku yang aku cari sejak kecil. Mereka kemudian mengajarkan aku tentang filsafat. Tidak, mereka bahkan tidak menyinggung sedikitpun tentang agama mereka. Biarawan itu hanya mengajarkanku tentang berpikir positif, tentang berpikir kritis. Mereka berhasil mencerahkan aku, dan juga mengajarkanku apa itu arti pluralitas yang tidak mengorbankan agama. 

Ternyata kegiatanku ini dicium oleh intelijen entitas itu. Aku merasa selalu diikuti kemanapun, Rama (biarawan yang waktu itu menggantikanku dicambuk)pun merasakan hal yang sama. Ia selalu mengutus salah satu temannya untuk memantauku dari jauh. Pria ini semakin membuatku jatuh cinta dengan perhatian diam-diamnya. Hingga suatu hari, saat kami semua sedang membahas buku Tan Malaka diruang utama, pintu depan didobrak dan sekumpulan tentara datang menangkapi kami semua. Mereka mencoba mengacak-acak dan mencari buku-buku haram yang seharusnya dibakar itu.

Dalam hati aku bersyukur, mereka sudah menyimpannya digudang bawah tanah yang tertutup. Pintunya berada disebuah tempat di hutan dibelakang kami. Penjaga ilmu pengetahuan itu sudah berjanji untuk tidak membongkarnya, apapun resikonya. Setelah merasa bahwa kami tidak memiliki buku-buku haram itu, mereka menyeret kami seperti binatang. Membawanya ke tempat aku pertama kali diinterograsi. Menyiksa kami dengan berbagai pertanyaan, kali ini lebih parah. Mereka menjatuhi biarawan itu semua hukuman mati. Sementara aku dihukum untuk dirumahkan seumur hidupku.
***
Hari ini merupakan hari penghakiman mereka. Aku diizinkan untuk hadir di pemenggalan mereka. Sementara seluruh biarawan yang lain akan dihukum tepat didepan umat muslim dan didepan umat nasrani. Tapi ada satu yang melegakan, mereka tidak pernah menemukan buku-buku itu. Sehingga hukuman mereka tidak dapat lebih berat. Mereka hanya dihukum karena berusaha untuk memurtadkan diriku. Wanita yang terpikat oleh kebaikan seorang pria. Tanpa pernah peduli apa agamanya.

Ketika mereka semua sudah berada pada tempat pemenggalan, Rama pun memulai ucapan kata-katanya yang heroik itu.

"Teman-temanku, siapapun dan apapun keyakinan kalian. Seluruh dunia merupakan ladang beramal. Kami memercayai pendidikan dan pencerahan merupakan salah satu caranya. Teruskanlah mencerahkan, carilah buku-buku. Temukan pencerahan kalian." Dia berhenti sejenak sebelum berkata kembali. "Kini kami pergi, tapi kalian adalah penerus. Kalianlah yang akan melanjutkan apa yang dianggap benar. Lihatlah dengan mata hati, dan mata akal kalian."

Tepat sebelum ucapan Rama selesai, sebuah pedang mengayun dan langsung menebas kepalanya dengan keras. Membuat benda yang berisi kedamaian dan kecerdasan itu berguling tepat didepan para penonton. Hal kemudian malah mengejutkan, para muslim mengambil kepala dan tubuhnya, lalu membawanya menyingkir. Sebelum sebagian dari umat muslim berteriak-teriak. Aku yang kebingungan menatap ayahku.

Ayahku kemudian menyelipkan sebuah pemutar suara. Dari dalamnya aku mendengar suara Rama yang berkeresak. Seakan dia berkata melalui sebuah siaran yang diulang-ulang. Aku kebingungan sejenak sebelum kemudian menyadari kalau ini adalah jaringan siaran yang dipasang oleh teman-teman biarawan sebelum mereka semua ditangkap. Aku mendengarkan dengan seksama suara yang menenangkan itu.

"Teman-temanku semuanya, siapapun kalian, dimanapun kalian. Saya Rama, seorang biarawan yang dengan sangat rendah hati ingin memohon kepada kalian semua. Kalian semua sudah berada di titik nadir. Berada di kerendahan harga diri kalian, maka saya dengan segala kerendahan meminta kalian untuk mendapatkannya kembali. Dari seluruh temanku yang biarawan, ada seorang wanita yang tidak pernah menjadi bagian dari kami. Tapi sama-sama mencita-citakan hal yang kita inginkan bersama. Wanita itu adalah Putri. Dialah yang akan memimpin kalian mengambil kembali harga diri dan kebanggaan kalian. Serta memimpin dengan bijaksana."

Menyadari kalau dia memanggil namaku, aku kemudian tersentak sejenak sebelum kemudian menatap seluruh orang yang memandangku, seakan menunggu perintah. Mereka memberikanku kemungkinan untuk menyebarkan kembali toleransi. Mereka tidak pernah peduli kalau aku hanyalah seorang wanita. Yang dipedulikan adalah mereka memercayaiku sebagai sang juruselamat yang diidamkan. Ramalan yang dipelintir oleh entitas yang menguasai kami, walaupun aku juga tidak tahu apakah mampu untuk memenuhi cita-cita mereka.

Aku berdoa, dan aku rasakan Rama memelukku dari belakang. Kekuatan yang dipinjamkannya mampu membuatku berdiri tegak dan berbicara kepada kerumunan orang itu.

"Teman-teman, mari kita terima apa yang seharusnya kita terima. Mari kita jalani apa yang seharusnya kita jalani. Teman-teman, pinjamkan kekuatan kalian. Mari kita ambil apa yang menjadi milik kita."

Rama hanya tersenyum lembut disebelahku seakan menyambutku untuk mengikutinya. Dengan seluruh perasaanku aku menari, bergerak, mengomandoi. Seakan Rama mengenggamku dan mengajak berdansa, bersama dengan teman-teman yang lain. Menari dengan tombak, berdansa dengan senapan. Membuat ketakutan yang seharusnya tak pernah ada. Menjadikan hari itu, terkenang sebagai revolusi pencerahan untuk yang kedua kalinya. Kali ini dengan senjata.

No comments:

Post a Comment